Gastroenterohepatology Corner (GHC)

(Pojok Pencernaan & Hati)

Peran Fibroscan pada Penyakit Hati Kronis

August, 14 Aug 2017

        Fibrosis hati (perubahan menjadi jaringan ikat) merupakan salah satu komplikasi penyakit hati kronis yang dapat berkembang menjadi sirosis dan mengakibatkan berbagai komplikasi seperti pecah varises esofagus (PVO) yang ditandai dengan muntah darah dan BAB hitam. Hingga saat ini baku emas untuk pemeriksaan fibrosis adalah pengambilan sampel jaringan hati dilanjutkan dengan pemeriksaan di bawah mikroskop oleh dokter ahli patologi anatomi atau yang dikenal dengan biopsi jaringan hati, namun metode ini bersifat invasive, mahal, dan hasilnya dapat bervariasi antara observer. Metode baru non- invasif yang juga akurat untuk menilai fibrosis adalah elastografi transien (fibroscan).

     Fibroscan mempunya nilai prediksi negatif yang tinggi sehingga baik untuk mengeksklusi pasien sirosis. Lalu kapan sebaiknya fibroscan digunakan?

  1. Hepatitis B

     Fibroscan dilakukan pada pasien hepatitis B dengan kecurigaan sirosis yang ditandai dengan peningkatan HBV DNA yang tinggi (lebih dari 2.000 IU/mL) terlepas dari berapapun nilai SGPTnya dan peningkatan SGPT tetapi belum mencapai 2x batas atas nilainya.

  1. Perlemakan hati

       Pada kasus ini, fibroscan dapat digunakan mendeteksi awal fibrosis signifikan terutama pada pasien perlemakan hati non-alkoholik dengan obesitas dan kencing manis akibat resistensi insulin (DM tipe II) yang meningkatkan risiko progresifitas menjadi sirosis. Pemeriksaan fibroscan berkala setiap 3 tahun direkomendasikan pada pasien- pasien tersebut untuk melihat progresivitas fibrosis.

  1. Hepatitis C

       Pada negara dimana terapi hepatitis C baru dimulai pada fibrosis berat atau sirosis, maka fibroscan dapat digunakan sebagai penentuan kapan untuk memulai terapi. Namun sekarang dengan adanya terapi anti virus yang baru, maka fibroscan apat digunakan sebagai monitoring fibrosis hati. Pada pasien hepatitis C dengan sirosis hati yang dilakukan transplantasi, fibroscan selama setahun pertama setelah transplantasi dapat mengidentifikasi risiko kekambuhan hepatitis C.

         Selain pada penyakit hati di atas, fibroscan dapat digunakan untuk menilai risiko peningkatan tekanan vena portal akibat sirosis dengan tekanan vena hepatika 10 mmHg atau lebih. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (lebih dari 90%) sehingga hasilnya cukup akurat. Selain itu, fibroscan dapat menilai risiko keganasan hati pada penyakit hati kronik, khususnya pada hepatitis B dan C. Semakin besar nilai derajat kekakuan hati, maka risiko menjadi keganasan semakin meningkat. Jadi dapat disimpulkan, fibroscan menjadi standard metode non- invasive yang signifikan untuk menilai fibrosis dan seirosis, serta memiliki manfaat yang luas mulai dari diagnostik, penentuan dan pemantauan terapi, dan penentuan prognosa pasien.